|
Saya terkadang berpikir, penderitaan yang bertubi-tubi di negeri ini (terutama kemiskinan dan kriminalitas) akan mengantarkan kita pada sebuah kondisi sindrom modern, yakni belas kasihan sebagai pekerjaan yang melelahkan..dan bakal ditinggalkan..suatu saat atau kini sudah menggejala.
Ketulusanmu Membuat Huruf-huruf itu Hidup.
Aku paham betul, betapa ia gugup ketika membacakan sebuah puisi
Aku mendengar betul, desing nafas yang tak teratur
keluar dari mulut dan hidungnya malam itu.
Aku merasakan betul, di balik ketidakelokan penampilannya malam itu
Toh, semua tetap berjalan
Hadirin pun menganggukkan kepala,
dan sesekali tertawa kecil melihat tingkah polah penyair pemula itu
Ia sukses
Sebelas bait puisi berhasil ia selesaikan malam itu
Walaupun saya terkena percikan butiran keringat dari wajahnya
tepatnya jatuh di pojok alis mataku.
Aku bahagia kawan,
Ketulusanmu membuat huruf-huruf itu hidup.
Malam pun berlanjut
Gemericik air tetap berirama sesuai keinginannya.
Tulisan ini kuperuntukkan kepada Joe Revolusioner, Masruri, dan Albadri (yang udah baca Puisi), para pegiat Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 27 Oktober 2009.
|