|
Zaman ini serba kilat. Lalu lalang informasi tak terbantahkan. Terus membentuk arus yang terkadang semakin ruwet. Itulah globalisasi. Sebuah kondisi yang di dalamnya terjadi revolusi arus informasi dengan segala tetek bengek pemutaakhiran teknologi. Keliru sedikit saja mengarungi bahtera peradaban di zaman ini bisa berakibat fatal. Antony Gidden mengatakan, zaman ini berada dalam situasi running away, segala sesuatu begitu cepat berlari, bahkan sulit dikejar.
Sehingga diperlukan pengenalan atas segala hal yang sedang terjadi pada zaman ini. Sehingga hemat saya globalisasi adalah bahan ajar yang harus dipelajari oleh siapa pun secara seksama, tanpa harus mengalfakan sikap kritisnya. Karena hal itu yang bisa membuat peradaban ini layak untuk dihuni. Kita tidak bisa lagi mengaku cukup dengan informasi warisan leluhur, kemudian berencana keluar dari ring sejarah. Karena hemat saya, itu adalah tindakan bunuh diri secara perlahan-lahan.
Gejala penghambaan atas budaya massal kapitalisme, sebagai budaya kemasan yang cenderung hegemonik dan artifisial, adalah fenomena yang hingga kini masih menjadi perhatian banyak kalangan.
Dalam konteks kebudayaan sebagai identias diri maupun kelompok, problema tercerabutnya akar kebudayaan lokal-nasional adalah konsekuensi logis. Minusnya keterlibatan para pemuda untuk memosisikan diri sebagai pelanjut tongkat estapet kebudayaan mereka masing-masing menandakan bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis nilai. Dan itu adalah krisis kehidupan. Pendek kata, berkesadaran akan kebudayaan sudah mulai punah.
Akibat dari itu, sikap reaksioner selalu menempati urutan pertama, manakala peristiwa kebudayaan sedang dalam titik perjumpaan dengan kebudayaan Negara lain. Sebagaimana yang akhir-akhir ini terjadi antara Indonesia dengan Malaysia.
Sedari bersama, kebudayaan adalah olah kreasi ummat manusia. Dalam sejarahnya, ia selalu beradaftasi dan bersifat dialektis dengan zaman itu sendiri. Memengaruhi, begitu sebaliknya, dipengaruhi oleh masyarakatnya.
Atas dasar itulah, Komunitas Swarna Bhumi lahir dan bergeliat dengan sekuat tenaga untuk melahirkan budaya tanding atas apa yang sedang terjadi permukaan kini. Dengan cara, menziarahi akar-akar kebudayaan masyarakat Jambi dan budaya wilayah-wilayah lain, sebagai bagian dari gerakan penyelamat kebudayaan. Karena, usaha inventarisasi, kuatitasi (penguatan) dan rekontekstualisasi terhadap problema kekinian di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah adalah tugas luhur yang harus diemban oleh siapapun, tak terkecuali bagi Komunitas Swarna Bhumi ini.
Bukan hendak menyederhanakan persoalan, tetapi berupaya turun jalan dan duduk sekaligus menengok dari dekat, perihal problema yang kini sedang terjadi, tak lebih.
Jumardi Putra, Pegiat Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 28 Oktober 2009. (bahan diskusi rutin bersama Swarna Bhumi, 3 November 2009 di Ngebanresto).
|