Login

Masuk
 
Baner
Hidup tak Sekedar Urusan Perut PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Joemardi Poetra   
Kamis, 07 Januari 2010 15:40

Desa itu tak kunjung maju, bahkan justru tertinggal.

 

Dalam kesehariannya, usai shalat Shubuh, hampir keseluruhan penduduk di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi (mungkin juga terjadi di hampir keseluruhan pelosok Desa di negeri ini) berbondong-bondong memecah sunyi dan berjalan mengikuti irama bunyi sepatu bot, sandal jepit serta gesekan bersahabat antara kaki dan batu kerikil sepanjang jalan.

Tujuannya bermacam-macam, ada yang ke sawah untuk menanam atau bahkan memanen padi, ada juga yang ke kebun karet dan masih banyak aktivitas penyambung hidup lainnya yang dilakukan oleh mereka dalam sehari-hari. Sungguh indah lukisan masyarakat desa tersebut, manakala para seniman lukis gemar memindahkan potret riil tersebut ke dalam beragam ukuran kanvas. Namun yang pasti, kisah tersebut menggambarkan ada semangat yang serentak untuk menghargai kehidupan sebagai titipan Ilahi yang harus diolah dan dimanfa’atkan.

 

Waktu pagi adalah luapan rezeki yang sangat dinanti. Ada idiom yang berkembang di kalangan orang tua di Desa itu yang kebetulan selalu menjadi menu utama nasihat pada anak-anaknya: nak, jangan tidur di waktu pagi, nanti kamu kehilangan rezeki. Begitu nasihat yang secara turun temurun terjaga sampai saat ini.

Semua berderu dalam kerja nyata, bukan mimpi yang selalu dianak pinak oleh sikap malas tentang kekayaan yang tidak dilalui dengan proses menggali, mencari dan memanfaatkan segala sesuatu yang Halalan Toiiban di muka bumi ini, atau bukan tawaran ilusi dari para pemain sinetron tentang kekayaan yang datang serba dadakan.

Bagi mereka, kerja keras adalah manifestasi dari sikap kesungguhan yang telah lama ditempa oleh generasi sebelumnya, bahkan juga bagian dari didikan alam. Fakta menujukkan, banyak orang yang mengakui sifat kerja keras mereka, bahkan sangking tingginya etos kerja yang dimiliki, hari piknik bersama buah hati dan istri, apalagi sanak keluarga jarang ada di dalam kamus hidup mereka. Singkat kata, bekerja dan bekerja. Begitu lah putaran waktu dalam pikiran dan tindakan mereka.

Akan tetapi, sebagai manusia yang hidup di zaman samacam ini, sebuah zaman yang tidak lagi mengenal tapal pembatas antara teritorial sebuah Negara, Provinsi, Kabupaten, Desa, dan sampai batasan yang cukup abstrak sekalipun seperti identitas diri, dan kelompok ternyata tak lagi relevan dijaga dengan super kaku dan ketat. Pendek kata, tindakan pelarian dari garis sejarah yang sedang berkembang saat ini resiko nya adalah dilindas oleh lawan tampa ampun dan kasihan. Dengan demikian, harus ada progressive changes dalam pola pikir masyarakat dan aparat Pemerintah Derah setempat sehingga kelak mampu menerima segala macam tradisi positif yang sedang berkembang di jagat alam raya ini.

Pertanyaanya adalah, selesai kah sebuah pekerjaan sebagai bagian dari sejarah yang praksis ketika kerja keras hanya berkaitan dengan penumpukan harta di sebuah gudang yang telah direncanakan pada malam harinya bersama buah hati dan sang istri. Kalau hal itu benar tejadi, bukan kah ini adalah bentuk dari masyarakat yang menuhankan isi perut ketimbang proyeksi tentang masa depan yang maju dan sentosa. Di samping itu, sudahkah merasa puas mewarisi tradisi atau ilmu yang serba terbatas kepada generasi berikutnya. Seandainya hal ini juga terjadi, bukan kah ini pertanda masyarakat kita sedang dijangkit penyangkit enggan berbenah diri dan gemar menutup diri.

Menurut hemat saya, Desa Empelu (atau bahkan Desa lainnya) jangan lagi sebatas lumbung harta yang tidak bermanfa’at bagi keberlansungan sejarah peradaban manusianya, atau jangan lagi menjadi kambing congek para Konglemarat, Toke, atau Juragan kota-desa yang hanya memikirkan keuntungan pribadi. Hari ini jangan lagi dipahami sebatas hari ini, melainkan hari esok sudah harus dicanangkan jauh sebelumnya. Maka dalam perspektif ini lah nantinya kerja keras memiliki korelasi yang erat dengan perbaikan kualitas hidup masyarakat desa.

Bagaimana mewujudkan hal itu, tentu harus ada revolusi berpikir dan bertindak demi satu cita-cita yang tak lekang di makan waktu, yaitu perlunya menggalakkan semua komponen masyarakat untuk berjuang bersama-sama melahirkan generasi yang siap tanding dalam segala macam situasi dan kondisi. Untuk mewujudkan harapan tersebut tentu harus ada pemahamaan filosofis dan upaya-upaya strategis, seperti mewujudkan gerakan ayo bersekolah, ayo majukan lembaga pengajian Majelis Ta’lim, dan ayo majukan segala macam bentuk pertemuan muda-mudi, serta para orang tua yang diharapkan mampu merajut tali persatuan, sehingga gejolak konflik horizontal yang sering terjadi selama ini bisa diredam.

Diakui, selama ini semua sektor pengembangan diri (formal-informal-nonformal) tampak berjalan rapi, misalnya, tiap tahun tingkat aksessibilitas terhadap pendidikan formal dinilai meningkat, terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), sedangkan untuk Perguruan Tinggi (PT) masih cukup rendah, karena disebabkan banyak faktor, di samping belum adanya kesadaran akan pentingnya melanjutnya studi ke jenjang yang lebih tinggi, juga karena biaya kuliah yang kian melonjak tinggi. Sementara lembaga/komunitas pengajian Majelis Ta’lim di waktu sore menjelang maghrib juga tetap diadakan hingga kini, dan ragam pertemuan para pemuda serta orang tua juga ramai dilakukan.

Akan tetapi, kembali kita dijejal sebuah pertanyaan mendasar yakni sudah kah aktivitas tersebut menjadi wadah pembangunan serta pengembangan bagi seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, atau hanya aktivitas yang justru miskin nilai. Tentu ini adalah pekerjaan berat kita semua untuk berani mengakui dan menelaah ulang budaya yang sudah kadung mentradisi dari setiap generasi hingga kini.

Singkat kata, sebagai langkah awal, menurut hemat saya ada beberapa catatan yang harus digaris bawahi, terutama oleh Pemerintah Daerah maupun masyarakat Desa itu sendiri, yaitu:

Pertama: adanya jaminan memperoleh pendidikan, terutama bagi mereka yang tidak mampu. Kesempatan tersebut harus dilanjutkan dengan mengubah cara pandang terhadap sekolah, yakni sekolah tidak lagi dipahami sebatas aktivitas yang dipenuhi oleh gengsi sosial atau ikut-ikutan, melainkan pilihan yang diawali oleh kesadaran tingkat tinggi, baik dari individu maupun orang tua atau bahkan pemerintah setempat tentang pembenahan kualitas pribadi dan perbaikan sosial, ekonomi dan budaya. Kenapa? Karena pendidikan hingga kini diyakini mampu melakukan mobilitas vertikal secara cepat. Dalam bahasa Jhon Dewey, education is social continuity of life.

Kedua: lembaga atau komunitas pengajian Majelis Ta’lim yang ada di setiap rumah maupun surau tidak lagi dilakoni layaknya nahkoda tanpa Kompas dan Peta, melainkan harus ada target untuk mentransformasikan nilai-nilai agama yang inklusif dan bersedia menerima segala macam tradisi baru (baik yang datang dari dalam maupun luar) untuk menjadi way of life dalam mengaruhi bahtera rumah tangga atau dalam komunitas yang lebih besar (negara).

Ketiga: pendidikan non-formal, seperti pengajaran keterampilan harus selalu digalakkan dan disiapi secara matang sebagai sikap aktif dan solutif untuk mengantar masyarakat Desa agar bisa berperan serta dalam mengarungi kehidupan di zaman yang semacam ini, terlebih mengingat sumber daya alam kian berkurang. Ketika sumber daya alam surut, sumber daya manusia lah yang harus selalu dikembangkan, karena hanya ini yang bisa menjadi solusi jangka panjang. Contohnya, tidak sedikit negara yang tidak memiliki aset sumber daya alam justru bisa berkembang dengan pesat, sebut saja negara Jepang dan Singapura.

Sedangkan untuk pertemuan informal, seperti pertemuan para pemuda atau orang tua juga harus mulai bergeser dari paradigma lama yakni dari obrolan tanpa isi, atau dalam bahasa jawa hanya sebatas leyeh--leyeh sing ora mutu (obrolan santai yang tidak bermutu) menjadi pertemuan yang berkualitas, salah satu contohnya adalah selalu berupaya mewujudkan iklim komunikasi dan interaksi yang kondusif dan bersahabat antara sesama, sukur-sukur dari obrolan informal tersebut lahir ide-ide cemerlang tentang perbaikan kualitas hidup bersama. Sehingga budaya partisipatif serta jauh dari kepentingan individual yang picik bakal menghantarkan mereka dalam keadaan tenang dan tenteram.

Dengan demikian, kemungkinan hari cerah bagi kemajuan Desa Empelu bisa tercapai. Adalah merupakan suatu kebahagiaan, manakala Desa Empelu berkembang bukan karena semata-mata mengandalkan Sumber Daya Alam dan tujuan duniawi yang hanya memikirkan kegemukan perut, tetapi karena keinginan yang kuat dari segala komponen masyarakat untuk menjalani drama kehidupan yang lebih berharga dan bernilai, salah satu bentuknya adalah mementingkan pendidikan (formal-informal-nonformal) -sebagai wadah strategis untuk memperoleh ragam macam ilmu- selanjutnya bakal melahirkan generasi yang kritis, terbuka dan siap mengarungi era yang dalam pandangan Anthony Giddens disebut era running away.

Solusi yang terdapat dalam tulisan ini bukanlah jauh panggang dari api, melainkan siraman pengalaman yang bertubi-tubi membuat saya (mungkin juga kawan-kawan yang lain) sebagai anak Desa yang kebetulan sedang hidup di sebuah kota yang notabene jauh lebih unggul (SDM -red), merasa terenyuh dan tak jarang meratapi tanpa air mata betapa orang-orang di Desa ku sedang berjalan tanpa Kompas dan Peta, dan sekaligus sedang dibawa oleh nahkoda (Pemerintah daerah Hingga Kades sekalipun) yang tidak mengerti apa-apa tentang pelabuhan yang bakal dituju.

Akhirnya, harus ada political will sekaligus political action dari semua lapisan masyarakat, terutama pemerintah dan para insan-insan pendidikan untuk memikirkan bagaimana mengevaluasi pemahaman-pemahaman yang justru di lapangan jauh dari keinginan untuk menghasilkan perubahan yang fundamental di Desa Empelu tersebut.

Dalam kasus tertentu, khusus bagi bapak Pemerintah Daerah serta Kepala Desa agar mensegerakan diri mencari tindakan-tindakan preventif, korektif guna mengatasi ‘krisis’ yang sedang terjadi di tempat yang sedang dipimpin dan sekaligus memanfa’atkan segala pontensi (SDA-SDM) yang dimiliki untuk mewujudkan Desa yang betul-betul memiliki orientasi pengembangan Sumber Daya Mansuia secara berkesinambungan. Seandainya ada kebijakan-kebijakan yang justru memperlamban atau membatasi proses pengembangan diri masyarakat Desa harus segera dimusnahkan, seperti kebebasan berorganisasi dan mengemukakan pendapat.

Dalam imagi nakalku, terkadang sempat terlontar satu anggapan yang tampaknya cukup menggelikan, tetapi kalau dilihat dalam perjalanannya mungkin ada benarnya. Proses lahirnya Istilah nakal tersebut karena melihat rekam kejanggalan yang terjadi di lapangan. Di satu sisi, Desa empelu itu memiliki kekayaan alam yang mencukupi, namun karena tidak dikelola dengan baik, kekayaan tersebut hanya berguna untuk berlomba-berlomba menggemukkan perut dan status sosial, sementara di lain sisi para pejabat juga terlihat santai, tidak memiliki orientasi masa depan, mungkin hal itu dikarenakan mapan oleh jaminan ekonomi, kesehatan dan fasilitas lainnya yang telah didapatkan semenjak awal bekerja. Maka saya mengistilah Desa Empelu itu sebuah Desa sing ora sido makmur (Desa yang tak jadi makmur).

Karena memang dari sudut etimologi Ora Sido Makmur kurang mendukung terciptanya adrenalin masyarakat yang berkinginan maju, maka saya mengusulkan agar nama Desa Empelu (sing ora sido makmur -imagi-red) dirubah menjadi Desa Maju Sentosa. Harapannya adalah, di samping menjadi Desa yang memiliki lumbung harta yang Halalan Toiiban juga sekaligus memiliki generasi yang cerdas dan amanah, sehingga suatu saat masyarakatnya bisa maju dan sentosa, tur tidak gampang dibodohi.

Apa yang dimaksud dengan Maju. Secara sederhana, maju adalah potret individu atau masyarakat yang memiliki kesiapan intelektual, (ditemani kekuatan moral dan ketaatan hukum) untuk siap bertanding dalam kancah peradaban dunia saat ini. Sedangkan sentosa adalah satu keadaan jiwa yang tenang, tentram dan mampu membentuk perilaku sosial yang tidak mendahulukan ego pribadi maupun kelompok. Semua menyatu dalam kesejahteraan yang adil.

 

Yogyakarta, 22 Juli 2009

Tulisan ini telah dipublikasi di blog: http://joemardipoetra.co.cc

 

LAST_UPDATED2
 
Metamarket

Kamis, 07 Januari 2010 | Widodo

article thumbnailKondisi paska-modernitas—atau bolehlah kita sebut juga dengan rezim pasar bebas—mengarahkan manusia pada kompetisi-kompestisi ilutif, baik pada tingkatan material maupun metameterial....
+ Selengkapnya

AKU, KITA dan JAMBI

Kamis, 07 Januari 2010 | Jumardi

article thumbnail“Bulat Aek oleh pembuluh, Bulat kato oleh mufakat”   Jambi sebagai Kita adalah kesadaran bersama untuk menghargai masa lalu, melayani masa kini dan bertanggung jawab terhadap masa depan....
+ Selengkapnya

Artikel lain

Negeri Tanah Pusako

jambi kota candi muaro jambi sungai batang asai danau sigomak

Gallery Kegiatan

diskusi Temporary name, please change.
Temporary name, please change. Temporary name, please change.

Shoutbox

Puisi

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini40
mod_vvisit_counterBulan ini451
mod_vvisit_counterAll7998

Socio Profiler

Kunjungi kami di Social Networking

Polling

Tampilan web swarnabhumi