|
Mulanya, hanya segelintir orang. Seingat saya, berbentuk leter o mengelilingi lampu teplok, di tepi kali Nologaten, Sendang Tirto, Sleman- Yogyakarta, tepatnya di warung kopi ngebanresto, enam orang laki-laki dan satu perempuan (Rudi Hartono, Jumardi Putra, Aris, Erni, Widodo, Azkan dan Iwan) duduk bersila di atas tikar yang tampak kumuh dan lusuh. Tawa canda sesekali menghiasi forum mungil itu. Gemericik air di tepi kali sebelah joglo, tempat kami berkumpul menambah irama kehidupan malam.
Siapa menduga. Obrolan kecil itu melahirkan gagasan yang menurut kami cukup besar. Yakni membangun sebuah rumah pertemuan lintas disiplin ilmu. Siapa pun, terutama pelajar jambi Yogyakarta dipersilahkan datang dan meramaikan rumah ini dengan ragam wacana pengetahuan maupun keterampilan.
Salah satu di antara kami menyebutkan, rumah ini adalah blok sosial baru sebagai wujud resistensi atas fenomena kaum muda Jambi kini yang enggan memosisikan diri sebagai kaum progresif. Sebuah istilah untuk para pemuda yang terpelajar, terorgansir dan setia berdiri tegak bagi kebangunan masyarakat sipilnya, terutama masyarakar rumput (grasroot).
Malam itu, 27 Februari 2009, rumah itu diberi nama Swarna Bhumi. Sebuah nama yang mungkin asing. Memang, hal itu disengaja dari awal, mengingat sebagai generasi masa sekarang, kami berenam merasa memiliki tanggung terjawab terhadap masa lalu. Karena itu adalah sebuah keniscayaan bilamana menginginkan saat ini dan masa yang akan datang menjadi lebih baik. Dulu, kini dan masa depan adalah pertautan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain.
Swarna Bhumi adalah sebuah nama yang pernah ada dalam sejarah Kerajaan Melayu Jambi, tepatnya pada masa kerajaan Adityawarman ( ). Sebuah kerajaan setelah tumbangnya Darmasraya ( ). Kini, lokasi kerajaan tersebut terletak di daerah kabupaten Batanghari. Namun, diakui hingga kini masih terjadi perdebatan perihal validitasnya.
Secara etimologi, dua suku kata tersebut memiliki arti Tanah Emas. Maksudnya, bumi Jambi, sebagai bagian dari Bumi Pulau Sumatra, begitu juga seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki kekayaan bumi yang melimpah ruah. Sebuah titipan Ilahi yang patut disyukuri dengan berbagai cara oleh ummat manusia. Kiranya tak berlebihan Koes Plus mengistilah bumi Nusantara adalah kolam susu. Bahkan, dilempar tongkat kayu pun bisa jadi tanaman.
Persoalannya, modal kekayaan tersebut tak berbanding lurus dengan kualitas hidup masyarakat Jambi. Buktinya, setelah terbentuk sebuah provinsi pada tahun 1958 hingga kini, Jambi masih duduk manis di bawah ketidaktahuannya untuk berperan secara aktif dan progress di tingkat nasional maupun internasional. Sehingga ini mengindikasi pengelolaan yang buruk terhadap Sumber daya Alam berakibat fatal bagi pembangunan, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Walaupun tidak bisa dielak hal itu disebabkan oleh pemerintah Orde Baru yang terpusat di Jakarta selama tiga puluh dua tahun. Di samping itu, nampak indikasi bahwa kekayaan alam hanya dinikmati oleh segelintir orang, terutama mereka yang dekat dengan ring kekuasaan.
Sedangkan masyarakat sipil, terus hidup tanpa negara atau dalam hal ini provinsi Jambi. Padahal Otonomi Daerah telah memosisikan daerah masing-masing sebagai tuan rumah. Sudah barang tentu banyak persoalan (ex: korupsi, birokrasi rente, kriminalitas tinggi, kenakalan remaja, politikus busuk, pembangunan infrastruktur lamban, kualitas pendidikan rendah, pendidikan formal-non formal maupun informal tidak terjangkau oleh mereka yang tinggal di daerah pelosok maupun perbatasan, distribusi kekayaan alam tidak merata, dan lain-lain) yang menuntut pembahasan secara komprehensif untuk menemukan solusi bagi perbaikan Jambi ke depan.
Dalam istilah salah satu sahabat kami menyebutkan, pemerintah Jambi senang ngurusin masyarakat yang bodoh ketimbang yang pintar. Sebuah keadaan yang mengajak mundur jauh ke belakang. Sementara daerah lain terus bergeliat dengan capaian-capaian kualitas yang patut dipedomani.
Atas dasar itulah, komunitas Swarna Bhumi ini lahir, bukan sebagai penyambung feodalisme, tetapi memosisikan sebagai salah satu entitas di samping entitas lainnya untuk menciptakan dialog-dialog yang kritis, sehat dan yang pasti membangun bagi kemajuan daerah. Dengan kata lain, mengambil spirit Tanah Emas sebagai sesuatu yang perlu dipelajari dan dikelola dengan sebaik mungkin oleh pemerintah maupun masyarakat Jambi.
Guna mewujudkan hal itu, tentu bangunan komunikasi yang kokoh antar sesama pelajar Jambi Yogyakarta dan di seluruh Indonesia bisa mengantarkan pada situasi yang dinamis dan dialektis. Terus berkembang dan bisa memberi warna di atap langit provinsi Jambi. Dalam istilah lain, terjadi transformasi dari semua keahlian yang dimiliki oleh masing-masing generasi.
Hal ini tidak mudah, memang. Akan tetapi optimisme adalah kenyataan yang harus segera dimaterialisasikan dalam bentuk program-progam aksi jangka panjang, sehingga sesuatu yang didambakan tentang Jambi adalah mungkin.
….
Lamban laun, namun pasti, setelah menginjak usia ke sepuluh bulan, komunitas Swarna Bhumi tetap bisa berjalan, walaupun di tengah perjalanan, kerikil tajam selalu menghadang. Namun, berkat kepercayaan yang dibangun antar sesama pelajar Jambi Yogyakarta beserta sesepuh Jambi Yogyakarta dan tak ketinggalan sahabat Jambi di seluruh Indonesia (formal maupun nonformal) membuat suasana hati selalu rindu untuk bertemu dan bertukar pikiran. Apalagi era informatika menyediakan berbagai fasilitas komunikasi untuk saling berbagi informasi, di mana pun dan kapan pun.
Di samping tertatih-tatih, dengan modal jalinan ekonomi berbentuk bantingan (iuran dadakan pribadi), letupan semangat juang kawan-kawan Jambi Yogyakarta adalah cerita manis yang bisa menenangkan hati dan pikiran bahwa peradaban belum akan punah. Seiring hal itu pula Komunitas Swarna Bhumi diharapkan mampu memberi arti dari keberadaannya di tengah pusaran peradaban kini. Maju terus Swarna Bhumi, dan jangan pernah berhenti selagi hayat masih di kandung badan.
Akhirnya, relevan jika kita merefleksikan sebuah ungkapan dari sastrawan Blora Pramoedya Ananta Toer: Apakah Bangsa/daerahmu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya. Siapa yang bakal memulai kalau bukan kalian, pemuda.
Oleh:
Jumardi Putra, salah satu pendiri Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta. 29 Oktober 2009.
|