Apakah Bangsa/daerahmu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya.
Siapa yang bakal memulai kalau bukan kalian, pemuda.
(Pramoedya Ananta Toer)
Saatnya Kita Bangkit Bersama
Pelajaran yang harus diambil dari sejarah terbentuknya negeri ini adalah bagaimana mengorganisasikan ide-ide luhur tentang kemerdekaan. Artinya,dari banyak organisasi pada masa pra kemerdekaan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain adalah realisasi dari kehendak bersama tentang idealnya negara-bangsa.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana butir-butir Sumpah Pemuda. Hal itu adalah pinanda ada kehendak merdeka dari segala macam bentuk penindasan saat itu. Mulanya adalah kesamaan bahasa, persatuan dan tujuan.
Senada hal itu, begitulah yang diharapkan dengan mahasiswa Jambi Yogyakarta dengan segala macam komunitas sosialnya. Sebagaimana diketahui bersama, Jambi adalah provinsi yang memiliki banyak kabupaten. Sebut saja ada kabupaten Bungo, Kerinci, Batanghari, Tebo, Muaro Jambi, Bangko, Sarolangun, Tungkal, dan masih banyak yang lainnya.
Kenyataan ini sebenarnya adalah modal berharga apabila bersatu dalam ide maupun tindakan. Perpaduan dan tata kelola yang baik antara Sumberdaya Daya Alam dengan Sumber Daya Manusia adalah keniscayaan untuk menuju tarap kehidupan yang lebih baik bagi Jambi ke depan.
Mari lihat, di kancah nasional, apa yang menggembirakan dari Jambi. Padahal diketahui, otonomi daerah memberi kesempatan lebih leluasa bagi masing-masing daerah untuk memberdayakan sekaligus mengembangkan potensi-potensi daerahnya. Sebut saja, kesempatan mengenyam pendidikan formal belum merata, apalagi kualitasnya belum menjanjikan, kesehatan mahal, keamanan masih jadi masalah, karena tingginya angka kriminal.
Di samping itu, kehidupan orang rimba terancam punah, lantaran hutan segar dieksploitasi secara membabi-buta oleh oknum-oknum tertentu. Begitu juga dengan harga karet dan sawit turun drastis. Singkat kata, sektor pertanian dan perkebunan masih menyita masalah. Ini mewartakan, masyarakat kita sedang pusing tujuh keliling. Padahal jadi rahasia umum, masyarakat Jambi terhitung masyarakat yang giat bekerja. Sejurus dengan itu, beberapa orang pejabat Jambi disandera Komisi Pemberantasan Korupsi.
Diam Tak Lagi Emas
Kondisi semacam ini adalah basis pembenaran bahwa saatnya kita memosisikan diri sebagai panjang tangan masyarakat. Segala pentuk penyimpangan yang terjadi di Jambi harus disikapi secara kritis. Itulah tugas kita.
Bukan sebuah persoalan, jika kita semua masih di Jogja atau di mana pun berada (luar-dalam Jambi), karena jarak antara pulau Jawa, Sumtara, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya sudah ada solusi. Kini telah ada fasilitas komunikasi yang bisa mengantarkan masukan-masukan kita terhadap perbaikan Jambi. Niscaya, seiring waktu, kerja keras bersama akan ada hasilnya. Yakinlah, karena tidak ada pekerjaan yang menafikan hasil. Sekeras apapun batu bakal bisa berlobang kalau terus-terusan terkena pukulan air.
Di tengah genangan persoalan ini, relevan apa yang diungkapkan oleh Pram di atas, siapa yang bakal memulai kalau bukan kalian, pemuda. Dalam hal ini, haruskah pemuda diam, dengan berasumsi diam adalah emas. Kiranya diam adalah bahasa yang justru mengesahkan segala tindak tanduk keliru itu.
Merumuskan Paradigma Baru
Dalam hal ini, perlunya merumuskan cara pandang baru dalam diri atau kelompok sosial mahasiswa Jambi Yogyakarta (ex; KPJY dan Komunitas Swarnabhumi). Baik secara visi-misi atau pun program-program kerja, bahwa perubahan yang diimpikan harus datang dari kondisi realitas yang terjadi. Artinyo, butuh perencanaan jangka pendek, menengah maupun jangka panjang yang matang untuk menuju cita-cita bersama.
Hemat saya, paradigmanya adalah memosisikan kepentingan daerah sebagai bagian kepentingan tertinggi dari mewujudkan Negara Indonesia yang merdeka dalam pengertian yang sesungguhnya. Mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan berdikari secara prinsip dan berdemokrasi dalam setiap laku kehidupan. Apa pun persoalan yang sedang melilit di daerah harus ada penyelesaian tepat sasaran.
Kita ketahui bersama, pemerintah Jambi masih bercorak feodal. Artinya, Pemerintah masih enggan menerima masukan dari masyarakat. Kritik dianggap dosa besar yang harus dijauhi, sementara demonstrasi dianggap asal muasal lahirnya anarkhisme yang dangkal.
Dalam bahasa lain, pemerintah lebih senang ngurusin masyarakat yang bodoh, karena dinilai tidak mengganggu stabilitas. Di samping itu, pemerintahan yang berjalan saat ini tanpa ada perpaduan yang kuat dengan masyarakat. Masyarakat terlihat jalan sendiri, pemerintah juga jalan sendiri. Akhirnya, wajar jika perubahan tidak dirasakan oleh lapisan akar rumput (grass root).
Akhirnya, kenikmatan bernegara dengan segala macam fasilitasnya hanya dimiliki oleh mereka yang sedang duduk di kursi kekuasaan. Sedangkan masyarakat akar rumput masih berjibaku dengan keringat mempertahankan hidup.
Meruntuhkan Egoisme Kekanak-kanaan
Selama ini, saya melihat jika sebagian pelajar Jambi itu enggan meluangkan waktu untuk berorganisasi, apalagi kalau program-program kerja organisasi dianggap melelahkan. Mereka lebih suka main-main dan hura-hura. Sudah saatnya egoisme individu dihancurkan, dan membangun tali kesepahaman baru bahwa kita adalah agen-agen masyarakat Jambi. Apa salahnya meluangkan sebagian waktu untuk membicarakan dan mencari solusi terhadap persoalan-persoalan yang sedang melilit Jambi.
Merebut Ruang Ingatan
Dalam sejarahnya, pemuda adalah kelas sosial yang selalu berdiri di garis depan untuk memikirkan masa depan yang lebih baik. Tidak ada kata menyerah dan tunduk pada kondisi yang sudah ada saat ini. Puncak dari segala bentuk perjuangan adalah menuju pintu gerbang kemerdekaan. Buktinya, pada tahun 1928, 1945 dan 1998 adalah catatan emas bagi kaum muda, karena berhasil membawa perubahan di negeri ini. Meminjam idiom dalam film si Jago Merah; pantang pulang sebelum api padam.
Akhir kata, kepada seluruh mahasiswa Jambi se-Indonesia, termasuk kami pribadi, mari kita bersama bersatu dalam ide. Walaupun pulau memisahkan, tapi tujuan tetap kita pegang dan jalankan.
Adalah hal yang luar biasa apabila segala potensi seluruh pemuda Jambi menyatu dalam satu kehendak bersama. Sudah barang tentu akan ada perubahan fundamental di Jambi.
Jadi, patut malu aku jadi orang Jambi, bila tidak meluangkan sebagian waktu untuk menziarahi Tanah Jambi dengan segala persoalannya.
By;
Jumardi Putra, Pegiat Komunitas Swarnabhumi Yogyakarta, 27 Oktober 2009.